Terence J. Byres
Kasus GKI untuk redistibusi land reform merupakan dikonstekstualisasikan sebagai sejarah awal: dengan mempertimbangkan konteks sejarah yang lebih luas bahwa memperluas kembali pada waktu yang lampau, dan ini konteks yang baru diterima. Bahwa usaha untuk mengamankan pembangunan di negara miskin pada masa pasca tahun 1945. ada Dua bentuk besar pertimbangan singkat yaitu: redistribusi reform dan tenurial reform. Ada kemunduran dari land reform pada agenda kebijakan dari akthir tahun 1960an ke depan, dan ini baru saja muncul diterima sebagai catatan. Kemunculannya telah termasuk di dalamnya “market friendly” reform, dorongan yang kuat dari World Bank. Ini merupakan beberapa konteks yang menunjukkan bahwa kasus GKI berani (the bold) dan radikal untuk redistribusi land reform yang telah dilakukannya. Tulisan ini menyajikan Resum singat dari kasus tersebut. Kemudian, kondisi penyelidikan GKI oleh beberapa kontibutor untuk spesial isu disajikan secara singat, termasuk perlakukan konteks metodologi GKI. Penyelidikan ini menyajikan pertanyaan tentang: lingkungan neo-populisnya yang logis dan menghubungkan permasalahan teoritis secara bersamaan. Adanya keterbalikan hubungan diantara produktifitas tanah dan luas tanah. Perkiraan berdampak pada pertumbuhan ekonomi pertanian. Dalil berdampak dari bias urban; dan mengabaikan “kenyataan politik tanah” (“the real politics of land”). Ini meliputi pelakukan Jepang, Taiwan, China, petani negara-negara blok Soviet, Afrika Selatan, (yang terfokus pda Afrika Tenggara dan Zimbabwe) dan Bangladesh.
Keywords: Land Reform, redistibutive reform, tenurial reform, neo-populism, neo-classical appoaches to land reform.
Konteks Sejarah dan Kekinian
Seperti yang telah diobservasi: sejarah land reform ada sepanjang sejarah dunia, sedang memperluas kembali hingga abad pertengahan, jaman purbakala dan jaman biblikal (Tuna, 1965: 3). Sesungguhnya, bentuk tenurial khusus dari penyediaan surplus, pembagian sewa-menyewa, dimana eliminasi dan moderasi sering digambarkan dalam program-program land reform, atau dalam perjuangan agraria, pada saat yang lalu, dan menunjukkan hingga sekarang, apakah sepanjang pencatatan sejarah (Byres, 1983: 2).
Konteks sejarah yang kita miliki tidak dapat meluas, walaupun kita melakukan baik to mencatat reforma agraria berdasarkan keturunan yang turun-temurun, dan relasi tersebut terkadang penting dan mengacaukan perubahan agraria sebelumnya.
Konsern kita, sedikitnya, merupakan okupasi kontemporer dengan land reform – di sini dan sekarang. Bahwa, sesungguhnya, harus dilihat dalam nya konteks sejarahnya yang kita miliki: bahwa dari usaha untuk mengamankan pembangunan di negara miskin pada masa setelah tahun 1945-an. Bahwa termasuk di dalamnya, pada dekade tersebut, keduanya negara-negara sosialis dan non-sosialis, berakhir melalui beberapa bentuk kapitalisme, dengan negara sosialis dan penyesuaian perancanaan sosialis seperti yang sering disebut negara ”developmentalis” dan perencanaan non sosialis (non-sosialis planning). Pada tahap awal masa tersebut (1945), ini merupakan kebijakasanaan yang diterima, sebagai pernyataan dalam sebuah dokumen PBB yang penting pada saat itu, land reforms. Kerusakan dalam struktur agraria sebagai menghalangi pembangunan ekonomi, bahwa;
Struktur agraria untuk banyak negara, dan secara khusus sistem land tenure, menghalangi peningkatan standar kehidupan petani kecil dan tenaga kerja pertanian dan menghalangi pembangunan ekonomi, keduanya mencegah ekspansi suplai pangan dan menyebabkan pertanian – biasanya aktivitas pertanian secara umum – menjadi stagnan. (United Nations, 1951: 89)
Itu yang dikatakannya, disini kasus yang mempunyai kekuatan atas land raform, keduanya pandangan penggabungan dengan pertaniannya sendiri dan alasan inter-sektoral.
Tenurial reform dan redistributive reform
Di sini, sesungguhnya, bermacam-macam perbedaan land reform. Abstraksi dari, sebagai contoh, dukungan pemerintah tentang skema settlemen, dan khususnya collektivisasi (kaum sosialis berusaha untuk menyelesaikan permasalahan agraria) dari land reform (banyak terkadang kaum non sosialis berinisiasi, dan terkadang suatu waktu dalam pembangunan pertanian kapitalis), dua tipe dasar menerima atensi (perhatian) pada waktu sebelumnya: tenurial reform dan redistributive reform. Keduanya, setelah era di tahun 1945, mengeluarkan inisiasi, atau inisiasi yang potensial, dari negara-negara pembangunan: top down, land reform dari negara, tetapi land reform tersebut telah dibersihkan dari masalah, hampir selalu, dengan beberapa bentuk perjuangan petani yang diprioritaskan. Land reform tidak dapat berkembang menjadi agenda kebijakan pada kondisi politik yang tertutup.
Tenurial reform berhubungan dengan term-term dimana penanganan operasional ditangani dan dikerjakan, dan mencari menggurangi aspek tersebut dari keterkaitan tenurial, atau bentuk penanganan operasional, yang menangani incentif yang memudar, mengurangi keperluan-keperluan untuk investasi dan menghalangi efisiensi, dan mencegah munculnya ketidakefisiensian, dinamikan dan pertumbuhan pertanian. Idealnya, sistem sewa-menyewa sendiri harus menghapuskan, dengan sebuah kebijakan tentang tanah untuk petani (tiller). Sebagai contoh, semua rintangan tenurial pada dinamika pertanian harap ditinjau kembali. Dimana sistem sewa menyisakan, seperti land reform telah dimasukkan dalam relasi tuan tanah yang menetap, di tanah-tanah yang absentee tidak menarik untuk investasi produksi di tanah; penghapusan bentuk sewa khusus, sharecropping, penanganan yang secara khusus merugikan, karena itu itu berdampak pada insentif dan itu menyebabkan persediaan surplus yang berat (sehingga memindahkan dari cara-cara produsen berinfestasi); pengenalan pinjaman uang yang pasti dan pinjaman “adil” (‘fair rents) (sebagai contoh mengontrol pinjaman) dimana terjadi komersialisasi pertanian dan mengontrol pembatasan pinjaman; Pengurangan sistem sewa yang tidak kuat, sejak itu disincentif bahwa investasi yang menuntungkan tumbuh meningkat dalam waktu yang lama. Kita juga harus memasukkan hasil yang mengakar dari fragmentasi tanah (dimana sebuah penanganan operasional ditangani dalam beberapa bagian terpisah yang secara fisik), melalui program konsolidasi penanganan, walaupun memiliki sebagus menyewa penanganan-penanganan yang terfragmentasi. Seperti fragmentasi ditangani pada mempimpin pada ketidak efesiensian penggunaan tanah, tenaga kerja, dan modal. Secara teoritis, seperti reform tenurial, variasinya nampak berlangsung terus tanpa perubahan dalam distribusi penanganan operasional, dengan keduanya adalah penanganan besar dan kecil (petani kaya, menengah dan petani-petani miskin) yang menguntungkan. Dalam prakteknya, kelompok sasaran lebih banyak menjadi petani yang kaya.
Land reform redistribusi merupakan, pada prinsipnya, lebih radikal, dan mencari penanganan operasional redistribusi, sedang mengambil tanah darinya penangan operasional yang besar dan mentransfernya kepada yang tidak punya tanah sama sekali (landless peasants and wage labourers) atau itu dengan penanganan yang kecil (poor peasants), dan mengesankan batas tertinggi pada ukuran penanganan operasional. Sebuah bagian yang penting dari rasional ekonomiknya telh ada sam pai saat ini suatu relasi terbalik antara produktifitas dan ukuran pengelolaan, dengan jarak antara 50-60 per cent antara penanganan besar dan kecil. Ini berlanjut pada pendapat bahwa redistributive land reform akan mengurangi indikasi kemiskinan tersebar luas, oleh ketersediaan tanah, cara-cara subsiten dan pengamananan pinjaman dan sumber daya tenaga kerja, itu tanpa ini atau dengan jumlah yang tidak mencukupi. Ini mungkin juga dianggap merupakan kebutuhan politik dimana perjuangan petani telah redistribusi salah satu dari permintaan central. Di satu formulasi, ini esensi yang diambil dari status masyarakat desa (Krishna, 1959; 302). Tetapi, lebih berpotensi, ini sebagai suatu cara dari pengamanan dan mata pencaharian yang karenanya menjadi objek perjuangan. Redistribusi, dimana ini mengajak, memerlukan pembatasan legislasi, masalah itu sendiri sangat kontrofersi, lebih dari ukuran penanganan yang terus hidup kuat dan ukuran optimal dari penanganannya. Untuk mendapatkan kesuksesan diasumsikan memaksa reforma tenurial secara bersama-sama, lalu pengelolaan operasional akan dikerjakan untuk memaksimalkan dampak, dengan keperluan incentif di tempat. Ini merupakan redistributive land reform yang merupakan fokus dari isue spesialnya.
Terkemuka, Kemunduran, dan Kemunculan Kembali Land Reform dan Agenda Kebijakan
Land reform pernah mengemuka pada agenda pembangunan tahun 1950an dan 1960an, di antaranya adalah negara sosialis dan non sosialis, dengan kedauanya yaitu menggambarkan reform tenurial dan redistributive land reform pada program-program land reform dari perubahan negara-negara miskin. Di negara-negara sosialis ini menunjukkan menjadi pembuka untuk mengumpulkan dan menghilangkan dengan kemunculan kebersamaan. Di negara non-sosialis mencapai sukses yang terbatas, dengan tenurial reform membujuk membujuk lebih kuat, ddan dengan sukses terbesar dari redistribusi land reform, dan pembesaran pada keuntungan petani-petani kaya. Di negara-negara liannya land reform menyapu jalan sebagai inisiatif kebijakan umum, pada akhir dari tahun 1960an, di kondisi sadar ’teknologi baru’ dan pertaruhan yang kuat filosofinya, dalam kepercayaan yang banyak dibutuhkan pertumbuhan pertanian, dalam negara-negara yang tumbuh secara perlahan hingga pada level yang sanat rendah dapat diamankan. Teknologi baru tersebut sering diadopsi oleh petani-petani besar yang mempunyai keuntungan dari tenurial reform. Adposi teknologi baru menciptakan struktur ketidakadilan yang meningkat. Land reform mundur menjadi latar belakang dari akhir tahun 1960an on wards, walaupun ini tidak pernah muncul sama sekali. Dari akhir tahun 1970an, land reform berada di luar dari agenda kebijakan (Borras, 2003: 367) lebih atau kurang komplet.
Di paruh waktu, kematian negara-negara pembangunan ditandai dengan penempatan kembali dengan pelajar yang tidak disangka dan penengah negara-negara neo liberal di negara-negara miskin. Land reform, setelah kegelapan (eclipse) dari kemunculan yang lebih awal dalam perubahan negara-negara miskin, dikembalikan lagi baru-baru ini kepada agenda-agenda politik, tetapi sering sekarang ini dalam bentuk yang lebih diujicobakan ke pasar. World Bank, sebagai contoh, mendesak ”land reform lebih familier ke pasar”, secara keseluruhan lebih tepat untuk contoh negara-negara neo-liberal, dimana melibatkan insentif yang kreatif dan menyediakan alat-alat untuk pemiliki tanah yang besar untuk menjual bagian dari yang mereka miliki. Ini merupakan pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan agraria reform ala negara, dengan di dukung oleh birokrasi besar dan menggunakan metode top-down, dan menuntut pembiayaan pelayanan yang tinggi, korupsi dan distorsi dari pasar-pasar tanah. Kemunculan kembali tersebut dari land reform sebagai suatu isu yang dibenarkan dari kedua sisi negara sosialis dan negara non sosialis.
Tetapi, ini tidak hanya advocasi dari semacam land reform khusus oleh Bank Dunia yang telah membawa kembali land reform pada agenda-agenda politik. Di sini mempunyai gerakan-gerakan yang kuat dari bawah – invasi dan okupasi tanah – sebagai contoh, Amerika Latin, mempunyai sebuah usaha pengamanan redistribusi yang telah dibuat. Sesungguhnya, program yang dimiliki Bank barangkali rata-rata merupakan sebuah respon kepada perjuangan yang populer terhadap kelebihan tanah: sebuah usaha untuk menenangkannya dan mengambilkan pesanan. Di sana juga merupakan bentuk khusus dari redistribusi land reform di Zimbabwe, sangat berbeda pada pasar-mediasi land reform diadvokasi oleh Bank Dunia, bahwa telah menarik atensi yang tidak mendukung di bagian Barat. Maka land reform, sungguh-sungguh, ada banyak kejadian, dan land reform yang merupakan redistribusi yang nyata.
THE GKI INTERVENTION
Issu spesial ini merupakan suatu respon untuk artikel Keith Griffin, Azizur Rahman Khan dan Amy Ickowitz, ”Poverty and Distribution of Land”, dipublikasikan dalam sebuah issu awal dari Journal of Agrarian Change (Griffin et al, 2002). Di sana, kasus teoritikal dibuat untuk redistributive land reform yang radikal diangap benar, dimana akan mengusahakan pengambilan tanah dari pemilik tanah luas dan membagikannya dalam pengelolaan yang lebih kecil, dengan itu yang akan mengerjakannya sebagai pemilik yang mengoperasikannya sendiri, petani berdasarkan keluarga (family-based farms). Kasus dari tenurial reform dihilangkan, pada landasan yang itu tidak dapat menghasilkan pendapatan tertinggi, dan mungkin sama-sama memperburuk masalah. Mereka mencata pasar yang bersahabat dari Bank Dunia, negosisasi land reform. Mereka ini menolak sebagai solisi yang realistik terhadap masalah ketidakadilan, kemiskinan dan pertumbuhan, karena:
Biaya keuangan penyelenggaraan pemerintahan dari suatu ’pasar yang bersahabat’ (market fiendly), kompensasi land reform secara penuh merupakan dibatasi menyusahkan dan pemerintah beruntung untuk merasakan dorongan perubahan pada beberapa batasan keuangan mungkin ditujukan pada kelompok sasaran (Griffin et al, 2002: 321).
Ini juga mahal dan dapat hanya memberikan amat terbatas dampak. Mereka berpendapat bahwa:
Kesimpulan yang tidak dapat dihindarkan bahwa distribusi land reform secara umum merupakan kemungkinanjika transfer tanah didasarkan pada harga pasar bebas; setiap pemerintah harus bertindak untuk menekan harga tanah atau di sana harus mempunyai hak sita dari beberapa kelompok. (Griffin, et all, 2002: 321)
Ini rekomendasi kebijakan berani yang menarik perhatian, ini sedang memulai keberanian tidak sama sekali ditangkap di dalam peringatannya; ’ini merupakan luka hati dengan penuh rasa sakit untuk mengerti, tapi ini tidak dapat dihindarkan jika di sana banyak harapan untuk sukses’ (Griffin, et al, 2002: 321)
Land reform melakukan advokasi, ini dipandang, akan memproduksi suatu efisiensi yang lebih dan pertanian yang lebih dinamik dan mengurangi kemiskinan pedesaan secepatnya. Kasus itu dibuat secara teoritik: singkat, dasyat, dan meyakinkan, dan dengan kejelasan yang luar biasa, dengan kerangka kerja neo-klasik. Dan di sini perlakukan dari ’kekuatan tuan tanah’ untuk memolisasi dan mengorganisir tenaga kerja untuk ’memeras usaha dari penyewa dan pekerjanya’ (Graffitin et al, 2002: 287, 288) ini dipandang secara ekonomi politik yang melampaui kebiasaan penanganan neo-klasik. Dalam masa yang sangat luas, pada situasi pra-reform, monopsonistic landowness menghadapi pekerja dari desa, dalam kondisi seperti ini dari berkaitan dengan ketidakadilan. Faktor pasar yang terpecah (tanah, pekerja, dan modal) dan sistem pekerja yang kuat mengontrol menghasilkan pengangguran tak kentara dan menyebarkan kemiskinan pedesaan. Karena itu faktor pasar yang terfragmentasi, petani kecil (untuk tenaga kerja yang relatif murah dan tanah dan modal uang yang relatif mahal) mengadopsi pemilik modal kecil-kecilan – rasio tenaga kerja/pekerja tingkat tinggi – ratio tanah dan petani besar (untuk pekerja yang relatif mahal dan tanah dan modal yang relatif murah) mengadopsi pemodal besar – rasio pekerja/tenaga kerja lebih rendah – rasio tanah: dan ini nyata-nyata kasus yang mana produksi petani kecil berkaitan dengan out put yang besar per are (hektar?) – lebih efisien – dari pada petani-petani besar. Suatu reformasi redistribusi tanah akan, oleh karena itu, meningkatkan out put pertanian berhubungan dan akan mempercepat pertumbuhan pertanian. Ini juga akan, mengarahkan kepada pembebasan kemiskinan pedesaan.
Tambahan, beberapa dari pengalaman berharga dari negara-negara dan region secara individual dipertimbangkan, itu memperlihatkan kasusnya. Itu jatuh pada dua penangganan yang berbeda yaitu: pertama, perubahan yang pasti dari pengalaman wiliyah dimana mereka logika redistribusi memerlukan diaplikasikan, yang mana mencakup sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, dan beberapa negara eks-sosialis dari petani Uni Soviet, walaupun tidak satupun mencatat, Asia Selatan; kedua adalah daerah land reform yang sukses, mencakup Taiwan, Korea Selatan, Jepang, RRC dan Vietnam. Seperti yang disebutkan terdahulu dilengkapi, satu yang kuat diungkapkan, pada konteks ekonomi mikro. Itu merupakan seleksi, juga pada Land Reform pada konteks ekonomi mikro, dimana itu dipandang bahwa redistribusi land reform akan menguat (lead) pada sebuah percepatan yang mempercepat pertumbuhan ekonomi. Ini juga akan, bagaimanapun, hanya jika kondisi-kondisi yang pasti dipertemukan. Perubahan yang merugikan dari ’bias urban’ dipandang dan ini di dipertegas bahwa perubahan dari bias urban merupakan .... suatu kondisi yang penting untuk redistribusi land reform yang sukses (Griffin et al, 2002: 317) dan, karena itu, untuk tuntutan pertumbuhan ekonomi lebih cepat lagi. Lalu, keharusan yang diusulkan oleh GKI untuk memindahkan bias tuan tanah (’landlord bias’). Walaupun Asia Selatan menerima perhatian kecil pada kelompok sebelumnya, Banglades membuat sebuah penampakan pada kelompok ini, ini dilakukan pada lampiran pada ’How Should Land Cocetration Be Measured?’. Bangladesh dilihat sebagai kasus utama untuk redistribusi land reform.
Dokumen GKI telah siap mempunyai dampak yang penting. Ini merupakan statemen yang penting dari kasus untuk redistribusi land reform, yang mana terlihat radikal dramatik dan mungkin sangat atraktif untuk itu dalam pembangunan pertanian yang bermusuhan secara normal pada pendekatan neo-klasik (termasuk diantaranya akademik, intelektual, pelajar, NGOs – jika tidak representatif dari pemerintah). Permohonan penting tersebut mempertahankan kemunculannya pada jangkauan yang menjanjikan – jika ini dapat diimplementasikan – membasmi kemiskinan dipedesaan dan mempercepat kelahiran pertanian dan pertumbuhan secara keseluruhan; Dan melakukannya dengan kasus yang dikonstruksi secara buruk dan disajikan secara meyakinkan. Dalam keberanian yang sangat – keberanian yang dramatik – itu terlihat mendapat potensi pengkultusan yang merupakan sangat kuat pada perbedaan dengan rekomendasi kebijakan land reform dari World Bank dan dari sisi kemiskinan tidak bermasalah. Lebih dari itu, itu mempunyai kaitan ekonomi politik bahwa teks-teks neo-klasik biasanya kurang dan yang mana terlihat memberinya relevansi yang muncul ketidakhadiran dari latihan teknik yang sifatnya alami juga.
Itu tidak ada kebutuhan untuk mengulang secara detal penuh dari penangganan GKI di sini. Penulis yang tertarik akan mengkonsultasikan artikel aslinya. Lebih dari itu, aspek-aspek yang berbeda dari argumen GKI dipresentasikan, di semua detailnya, pada dokumen yang dilanjutkannya. Pada dokumen tersebut, teoritikal yang relevan dan aspek-aspek analitisnya dari argumen ditujukan secara kritis dan beberapa dari perbeedaan pengalaman regional dimatangkan, pada panjangnya dan kritis. Kita mungkin menyoroti, bagaimanapun, tema yang diarahkan pada bermacam-macam sumbangan pada issu khusus.
Penggabungan Argumen GKI: Konteks Lanjutan dan Tema Besar
Ideologi dan Teori
GKI – dan lebih tepat, Keith Griffin sendiri – dilokasikan secara ideologikal pada dokumen Byres, sebagai bagian yang krusial dari kerangka penting dari yang dipikirkan, ’neo-klasikan neo-populisme, yang mulai dengan orang Rusia yang terkenal A. V. Chayanov, dan yang termasuk, lebih dahulu, paling menarik perhatian, pekerja Michael Lipton. Antara Griffin dan Lipton membuat inisial besarnya berkontribusi, dalam tradisi tersebut, pada tahun 1970an (Griffin, 1974; Lipton, 1977), dan, sungguh-sungguh, Argumen GKI ditemukan, pentingnya, ada di buku Ghriffin 1974. Mereka dengan cara yang sama diidentifikasikan oleh Bernstein, Sender dan Johnston dan oleh Karsenas sebagai orang populis atau neo-populis. Khan, sesungguhnya, fokus pada metodelogi neo-klasiknya, mendorong pada satu atau dua kompetisi pendekatan neo-klasik pada pemahaman yang kaku pada sektor pertanian, yang lainnya ada dari Bank Dunia. Disini, merupakan dalam konteks metodologi/ideologi.
Problem-problem teori menggabungkan dengan soncoh dari pendekatan disubjekkan menutup, diteliti secara detail oleh Khan, yang memikirkan pendekatan neo-klasik GKI, dan untuk pengujian paling luas oleh Byres, yang melihat diantara neo-populist dan neo-klasik tingkat-tingkat analisisnya, dan kontradiksinya co-existensi. Antara Khan dan Byres berpendapat bahwa model GKI gagal secara esensial alam kesejarahan dari pendekatannya dan, krusial, dalam pengabaian dari proses penggabungan dengan transformasi kapitalis di negara pinggiran, sebagai contoh adalah transisi agraria. Dyer, Sender dan Johnston dan Bernstein, pada jalan mereka yang berbeda, mempertimbangkan implikasi-implikasi dari pengabaian kapitalisme oleh GKI.
Bagi Khan, model GKI gagal secara logika lantaran walaupun mereka berpendapat bahwa realokasi dari tanah gagal terealisasi karena kegagalan pasar dan penanganan (tidak seperti tulisan dari Bank Dunia, yang menyebutkan pendekatan biaya transaksi yang tinggi) yang disebabkan petani-petani besar yang menikmati monopsony di pasar tenaga kerja, kenyataannya ini keluar pada sebuah penjelasan biasa transaksi tinggi (biaya transaksi tinggi yang tidak terlihat). Ini gagal, lalu menjadi psosisi Bank Dunia. Khan menolak dengan tegas argumen biaya transaksi. Konsentrasi di Bangladesh, dia berpendapat bahwa perbedaan GKI yang fundamental, apa yang perlu untuk pemahaman dinamika dan ketidakleluasaan (kaku/constrainsts) transisi agraria merupakan tempat dari kelas dan kekuatan pada pusan analisisi struktur dan perubahan dalam ekonomi agraria; dan dia fokus pada distribusi kekuasaaan yang mencegah proses aktif dari akumulasi primitif (merupakan sebagai realokasi tanah non-pasar) terutama pada transformasi kapitalis. Saya mengomentari pada pendapatnya selanjutnya, di bawah ini:
Agar Byres, problem esensial terletak pada pengejarannya pada dua tujuan dari keadilan (tujuan neo-populis) dan efisiensi (yang diinginkan neo-klasik). Byres berpendapat bahwa kontradiksi-kontradiksi inheren dalam pekerjaan ini merupakan tidak pernah keputusan yang memuaskan: GKI tersebut mengabaikan ketidakadilan struktural yang merupakan bagian yang esensial dari kapitalisme, kegagalan menangkap eksistensi dari perbedaan kepetanian dan pengabaian struktur kelas dari negara terbelakang. Ini merupakan berlanjut pada pandangan yang ini merupakan dasar yang logis merupakan bangunan neo-klasik dari persaingan sempurna yang merupakan tidak memiliki basis sejarah. Penolakan oleh GKI dari kasus untuk tenurial reform disangga oleh Byers.
Hubungan Kebalikan
Sebagaimana ditekankan oleh Dyer, relasi kebalikan berada di hati kerangka kerja teoritik dari GKI. Titik pusat postulate GKI dimasalahkan oleh Byers, pada tempat yang mana dicontohkan pada relasi kebalikan undoupbtedly ada pada the circumstances yang memperoleh di negara ketiga sebelum transformasi kapitalis penuh, dan harus ada untuk negara-negara, ini tidak dapat survive seperti layaknya transformasi. Untuk merawat keberkelanjutan eksistensinya untuk meyakinkan pendekatan statistic dalam konteks dinamikanya. Itu juga dimasalahkan oleh Khan pada kasus Bangladesh, oleh Bramall di dalam relasinya pada China, dan, dalam detail pemeriksaan yang teliti dari bukti yang ada di Afrika, oleh Sender dan Johnston.
Ini, bagaimanapun, yang penuh pemahaman yang dipertimbangkan oleh Dyer di kritik pencarian, ada satu teoritikal, methodological dan empirical, dari dukungan sentral dari argumentasi relasi berkebalikan, kerja dari Berry dan Cline (1979) dan Cornia (1985). Kerja Berry dan Cline, secara khusus, merupakan dihormati oleh banyak teks yang definitive pada relasi berkebalikan, dan merupakan dan dikutip oleh GKI seperti itu. Dyer berpendapat, dan mencari untuk menunjukkan, bahwa bukti empirikk digunakan oleh Berry dan Cline kegagalan secara serius dan tidak dapat dipergunakan untuk menguji hipotesis dokumen oleh penulis. Dia mempertimbangkan analisis silang negara dan bukti untuk Brazil, Pakistan Barat dan India. Dia telah melakukan penanganan relasi berkebalikkan yang dilakukannya, secara sunguh-sungguh, ada, tetapi dilakukan juga hanya dimana dominasi relasi-relasi sosial pra-kapitalis. Dalam konteks dinamika pembangunan kapitalis, bagaimanapun, di sana sangat kuat menyerang tentang penyebab kehancuran relasi berkebalikan. Secara khusus, pertanian (capitalis) besar sekarang memiliki akses untuk penggunaan teknologi baru yang mewujudkan ekonomi skala tanpa masalah. Dyer berpendapat bahwa pendekatan neo-klasik esensinya adalah statis pada relasi bekebalikkan, mengarahkan dalam kerangka kerja yang marginalis, diyakini oleh Berry dan Cline dan inhern dalam GKI, merupakan kegagalan yang serius. Dia menyediakan suatu pemahaman relasi kebalikan, yang mengikis, Dia percaya, pengunaan catatan (the letter) sebagai pusat rasional distribusi land reform.
Beberapa Lembaran GKI Diteliti: dan Permasalahan dari Efek Pertumbuhan dan Bias Perkotaan
Lembaran-lembaran GKI berbahasa Jepang, Taiwan, Korea Selatan, RRC dan Republik Rakyat Vietnam. Diantara mereka, Taiwan muncul sebagai primus inter pares, kasus klasik yang memberikan dukungan argument GKI menjadi komplet. Taiwan telah menjadi contoh primer ketika Griffin pertama kali membuat kasusnya pada tahun 1974. Ini kelanjutan pada pre-eminent, walaupun semua dari kasus yang tercatat sekarang dihargai secara serius oleh GKI. Untuk itu, keempat pertama adalah diperlakukan dalam issu spesial itu.
Kita akan mulai dari China. Bramall, di penanganan yang gagal dan comprehensive, menyebarkan semua data yang ada, dan sering juga data yang hanya baru-baru ini menjadi tersedia. Dia berpendapat bahwa redistribusi land reform diimplementasikan di China diantara tahun 1974 dan 1952, terlihat pada kebaikan GKI, tidak menentukan arah prediksi yang telah dilakukan, meningkatnya resiko pada hasil pertanian. Juga tidak ada egalitarian itu, oleh karena ketika itu masih memelihara kekangan ekonomi petani kaya. Sesungguhnya, tetapi untuk itu, di situ mungkin tidak tumbuh semuanya. Kedua land reform, dari tahun 1981-1983, juga mengambil sebagai lembaran oleh GKI, dengan cara yang sama tidak memberikan resiko pada akselerasi pertumbuhan pertanian. Pendapatan desa yang tidak adil yang terkontrol sejak tahun 1984, tetapi ini merupakan hasil bukan dari redistribusi land reform tetapi dari intervensi pemerintahan lokal. Itu bukan karena petani keluarga merupakan egaliter didalamnya. Bramall menyimpulkan bahwa GKI mengklaim jauh banyak juga untuk dampak dari land reform di China di tahun 1947-1952 dan 1981-1983. Kesimpulan selanjutnya adalah bagaimana itu mungkin dilakukan tentang sistem pertanian meletakkan tempat di China pada awal tahun 1950an dan memperbaiki setelah tahun 1981 merupakan lebih menyukai petani yang berkelompok dan ketika GKI ada hak yang pasti dalam kritisme land reform-nya sebagai langkah praktis di China sebelum tahun 1949 tidak pernah ada superioritas dari petani kelaurga yang jauh lebih kurang dipasarkan dari pada klaim GKI. Saya berpendapat bahwa: ‘jika di sana merupakan pelajaran dari pengalaman orang China, mereka merupakan yang disebut pertani pertanian besar bekerja hanya ketika dimplementasikan dan mengawasi dengan pemerintahan lokal yang pro-aktif, dan modernisasi teknologi tersebut merupakan terkadang sepenting sitemik reform di keberlanjutan secara umum munculnya pada produksi pertanian.
Bramall selanjutanya berpendapat – untuk penyegaran juga – bahwa pengalaman China dari land reform merupakan kacamatan yang dapat digunakan sebagai pengalaman dari negara-negara Asia Timur. Negara yang tidak melaksankaan land reform tabah seperti Jepang pedalaman, menempatkan permasalahan pertanian, tidak juga pada Taiwan dan Korea Selatan: juga Tidak juga land reform di Asia Timur sama (seperti di Japang, Taiwan dan Korea Selatan) menangkap yayasan untuk keberlanjutan pertumbuhan dalam waktu yang lama.
Penghargaan kepada negara-negara Asia Timur lainnya, hasil Bernstein yang, paradok, di sini ada kehadiran, mengutamakan reform, pada cerita sukses dari Asia Timur, pengiriman produksi skala besar memaksa pekerja (model Amerika Latin) yang merupakan pusat dari kasus studi GKI untuk redistribusi land reform, dan yang mana membentuk intisari dari teorinya tentang monopsonistik pemilik-pemilik tanah dan pekerja desa. Maksud yang dihasilkan Byres tersebut, setelah reform, di Taiwan, lebih baik dari semua taladan GKI, itu merupakan pertanian yang secara menyeluruh dikuasai oleh negara: sebuah negara yang digambarkan sebagai negara Garrison dengan administrasi yang baik. Di Taiwan, dipercaya sebagai sesuai pada satu penulis, itu konteks skala besar yang dikontrol secara ketat meninggalkan area hasil sisa dari arahan untuk membuat kebijakan skala kecil yang gratis.
Pendapat GKI yang bias perkotaan diperiksa dengan cermat dan ditolak oleh Karshenas, melalui konsiderasi pengalaman sejarah Jepang dan Taiwan. Karshenas berpendapat bahwa relasi agraria bermain pada peran kritis pada pola-pola sumber intersektoral yang mengalir dan jalan dimana sekrot pertanian mengerucut ekonomi makro di negara berkembang. Pendapat tentang bias urban yang digunakan oleh GKI tidak efektif pada abstraksinya dari sistem agraria sebelumnya dan dari institusi-institusi yang ada dan fokus pada satu perangkat sederhana dari perubahan bagian luar sektor pertanian itu sendiri, sebagai contoh bias kebijakan pemerintah. Ini diilustrasikan dengan referensi pada pengalaman Jepang dan Taiwan: bentuk diantara tahun 1888 dan 1937, dimana jauh lebih relevan pada negara-negara miskin dari pada masa setelah tahun 1945 dan ketika pertanian Jepang membuat sebuah sumbangan finansial penting kepada sandaran ekonomi; dan selanjutnya tahun 1911 hingga 1969, yang mana cocok pada fase kolonial yang jelas dan pembangunan pasca kolonial, yang meletakkan foundasi pembangunan eksport yang memimpin pasca tahun 1960an. Pengalmaannya menunjukkan bahwa tingginya nilai pajak dan ekstraksi surplus dari pertanian tidak bertentangan dengan perbaikan keuntungan dan insentif produksi pertanian, selama relasi agraria dan kondisi lainnya yang ada dapat memastikan nilai kecukupan yang cepat dari kemajuan teknologi dan pertumbuhan produktifitas di sektor ini. Implikasi ekonomi makro dari perbedaan relasi-relasi agraria adalah banyak kompeks juga dari pada cerita bias urban yang diungkapkan oleh GKI ditunjukkan.
Beberapa Pengalaman Lain: Negara Afrika Sub-Sahara dan Negara Blok Soviet
Meskipun Amerika Latin disebutkan dalam sumbangan pada issu spesial ini, kita kita tidak mempunyai penanganan substantif. Ini merupakan ketidakberuntungan karena itu signifikansi umum Amerika Latin, dan bagian khusus yang penting dari model GKI seperti yang kita lihat. Kita akan menyambut dengan gembira masa depan sumbangan kepada Amerika Latin.
Secara singkat tetapi catatan menerangkan, Kitching fokus pada negara-negara Blok Soviet. Dia berpendapat bahwa ketika ini susah untuk kritik terhadap GKI karena lukisan yang menggambarkan negara-negara dalam masalah yang juga besar, penangganan tidak cukup detail untuk melakukan analisis keterangan yang ada. Empat kelemahan penting diidentifikasi. Pertama adalah analogi problematik dari pertanian yang ditempatkan secara pribadi pada negara-negara terdahulu dan petani kelompok dengan minifundia di Amerika Latin, dan analogi konsekuensi dari petani kelompok dengan latifundia. Ini adalah analogi yang salahkarena itu sangat berbeda dalam konteks kelembagaan dalam mana relasi-relasi tenaga kerja telah tertata dalam Uni Soviet, seperti relasi kekuatan yang nyata telah banyak berbeda. Kedua, ada pendapat tentang pertanian plot pribadi telah terjadi involusi seperti dalam pandangan Geertz. Ini merupakan sama sekai sederhana, tidak relefan, oleh karena itu dianggap sebagai dalam kondisi yang given, dalam mana plot pribadi esensi yang lalu menjaga badan dan jiwa yang hidup, harga atau nilai mengukur hasil pertanian adalah sampingan point dari penilaian nilai real dari hasi pertanian atau pendapatan real dan situasi kesejahteraan. Ketiga, agenda redistribusi land reform GKI untuk Rusia merupakan masalah dan kasus dibuat untuk kepemilikan privat dan dimanage petani-petani besar. Ini adalah keras untuk optimis, dia berapendapat tentang daya tawar riil dari sektor petani kesil dalam pertempuran untuk sumberdaya. Akhirnya, keempat, GKI dikritik atas kegagalannya untuk membuat alamat (account) dari penawaran tenaga kerja yang terbatas di Rusia.
Sender dan Johnston memikirkan bukti yang ada untuk pertanian sub-Sahara dan pendapatnya yang kuat bahwa secara sederhana tidak mendukung proposisi GKI tentang pertanian kecil lebih efisien dari pada pertanian besar: pertanian besar tidak pelaksanaan yang berlebihan petanian besar pada term produksi. Mereka melanjutkan pandangannya, pada dasarnya yang terbukti, pertentangan GKI, bahwa beberapa bentuk dari pertanian kapitalis mungkin membuat jaringan tenaga kerja tambahan pada pertanian, dan oleh karenanya mempunyai beberapa dampak pada pengurangan kemiskinan perdesaan, ketika didukung oleh redistribusi land reform yang sederhana tidak melakukan dampak dalil.
Politik Tanah Riil: Penanganan Khusus di Bangladesh dan Zimbabwe
Akhirnya, GKI mengambil tugas atas pengabaiannya dari apa yang diungkapkan Bernstein tentang politik tanah riil. Diantara Khan dan Bernstein, pada perbedaan pandangannya, menuju pada issu kritis. Byres berpandangan pada aksi yang masif dan dramatik oleh negara bahwa disebut jika visi GKI tentang redistribusi land reform pada skala rekomendasi, tanpa kompensisasi apapun, ini yang diimplementasikan. Abstrak singkat GKI dimulai. Ini salah satu kesadaran dimana ’politik riil tanah’, sesungguhnya diabaikan secara singkat. Untuk mendukung penanganan ekonomi politik, ini mungkin terlihat sebagai penghapusan yang serius.
GKI berusaha mengidentifikasikan rintangan politik untuk melakukan perubahan. Tetapi mereka melakukan pada basis model ahistori secara umum. Khan melihat untuk merekomendasikan ini. Dia berpendapat bahwa konfigurasi kekuatan di masyarakat sangat spesifik secara historis dan dapat hanya dianlaisis dalam konteks kasus yang khusus. Kesiapan konfigurasi kekuatan merupakan sebuah sebuah variabel deteminan yang kritis langkah dan kelangsungan dari transisi agrarian yang dapat dalam penjelasan yang panjang – term pertumbuhan produktifitas. Seperti framework yang kuat benar disebarkan untuk tujuan pada mata pencaharian implementasi dari redistribusi land reform yang masif. Seperti implementasi tidak pada semua sesuai.
Ketika, sebuah negara seperti Bangladesh, peran negara dalam mengkonstruksi infrastruktur pertanian yang dikenal luas, determinan-determinan negara tidak dilakukan dengan kuat juga merupakan teori yang masih kurang. Sesungguhnya mereka tidak diteorikan pada semua oleh GKI. Secara bersamaan, salah satunya mengatakan, bahwa implementasi redistribusi land reform, termasuk dalam kondisi politik riil dari negara miskin seperti Bangladesh, susah untuk memahami. Khan mempersiapkan sebuah cara penanganan.
Kesimpulan: Analisis Komparatif dan Perdebatan Akademis
Sedemikian rupa, interograsi GKI oleh para kontributor untuk spesial issu, dan komentar saya pada permasalahan itu (yang mana beberapa kontributor mungkin tidak setuju). Untuk merasakan perbedaan secara individual dari para kontributor, perlu dibaca secara keseluruhan, oleh karena itu, pada kompleksitasnya yang dimiliki, dimana diabstrakan.
Ini adalah sebuah interograsi yang bertentangan GKI dengan sebuah alternatif, pendekatan materialistis pada isu perubahan agraria, dan dinamika produksi, kemiskinan dan kekuatan dalam bentuk-bentuk agraria kontemporer di negara-negara miskin. Pendekatan tersebut, akan disiapkan secara jelas, ini tidak tanpa pertentangan yang dimiliki.
Jarak kritik yang lebar ditawarkan dari GKI, sebagus perbedaan diantara kritik, bersama dengan jarak dari negara-negara diperhatikan dan dibuatkan komparasinya antara meraka, kerja selanjutnya tujuan journal menyediakan forum untuk melakukan analisis komparatif secara serius dan debat akademis. Perdebatan yang luar biasa merupakan suatu yang menyenangkan untuk dilanjutkan. Kita berharap, secara khusus, bahwa ini akan menghasilkan penanganan yang detail dari Latin Amerika dan negara-negara Blog Soviet lama.
.